Prologuethis is my story about my trip to Pati, my girlfriend's residence, with its fascinating experiences (as always) on my gf's father funeral. i shall write it in bahasa indonesia, because i feel more familiar with it.
mungkin agak sedikit bertele2 sih, dan mungkin agak membosankan bagi beberapa orang (apalagi yang tidak mengenalku dengan dekat), tapi yah, toh tujuan blogku ini adalah sebagai personal blogku, bukan untuk entertain orang :)
nama papinya ima adalah Sutikno, dan biasanya dipanggil Pak Tik (tapi tik dilafalkan tek seperti "mesin ketik" lafal jawa), dan maminya dipanggil Bu Tik, dan maminya ima biasa manggil papinya dengan panggilan Ko Tik. maminya ima namanya adalah Lisa Sulistyawati, dan biasa dipanggil papinya ima dengan sebutan "Lis".
Monday, July 17 2006: Pagi yang Cerahmasih lagi lelap2nya tidur, malam sebelumnya aku tidur jam 10, tapi karena ACnya dingin biasa baru bangun jam 8. pagi2 jam 630 telpon rumahku berdering. aku malas bergerak dari tempat tidur. mamaku yang angkat. mamaku memanggilku, "telpon dari ima". dengan malas dan mata setengah tertutup aku bergerak dari tempat tidur. aku agak setengah ga sadar juga ima koq nangis sesengukan, tapi karena baru bangun tidur aku belum sempat berpikir lebih jauh.
"ndri", ima mulai pembicaraan sambil tersedu2
"ha?", aku menjawab ngantuk
"papiku sudah ngga ada", ima mencoba menghentikan tangisnya, tetapi tidak bisa
"HAH?", aku kaget dan mulai tersadar
"papiku sudah ngga ada...", ima mengulangi kata2nya dengan lambat karena bercampur dengan tangisnya
"koq bisa??"
"ga tau... tadi pagi kokoku yang nerima telpon dari mamiku... trus tiba2 kokoku menjerit... serumah langsung tau ada yang ga beres"
"oh iya ta? trus ya apa? kamu gpp?"
"gpp... aku mau ke bungurasih... kalo nunggu travel kesiangan"
"oh ya. hmmm aku anter ke bungurasih ta?"
"koko, sousou, cicikku juga ikut ke pati"
(ima tinggal di rumah kokonya bersama dengan cece dan keluarga kokonya. sousou = istri dari kokonya. bungurasih = terminal bis di surabaya)
"oh ok, aku jemput aja ta?"
"ok"
pagi yg sibuk. aku kelabakan. aku bingung apa harus ikut apa ngga ya. pikirku kalau udah jadi mantu yah harus ikut. tapi aku masih ada kerjaan yg benernya udah ada janji dan ga bisa ditinggal. tapi kalau aku ga ikut, gimana ntar kesan2nya sama keluarganya ima ya, kan ga karuan juga. akhirnya aku memutuskan ikut, dengan membawa sejumlah uang untuk sumbangan kematian dan hidup di pati selama beberapa hari. aku sempat masang status bentar di yahoo messenger ku "ke Pati 3 hari [papanya Ima meninggal] (AWAY)", supaya teman2ku di ym tahu kalo aku bakal ga ol seminggu
Monday, July 17 2006: Perjalanan ke Patijam 7 aku diantar mamaku berangkat ke ima dengan perasaan campur aduk, untuk kemudian berangkat ke bungurasih. setelah sampai di rumah kokonya ima, dan semua sudah turut serta dalam mobil, akhirnya berangkat ke bungurasih. semua pada diam di mobil. mamaku mencoba berbasa basi dengan menanyakan ceritanya. kokonya ima mencoba menanggapi juga. perjalanannya sempat muter-muter sedikit sih, soalnya ke bungurasih lewat tol, dan salah ambil belokan. gara2 salah ambil belokan yang pertama, sampai di jalan yang asing, dan sempat salah lagi ambil arah. alhasil kita baru sampai di bungurasih sekitar jam 8 lebih. setelah itu mamaku pulang dan meninggalkanku dan keluarga ima di terminal.
setelah pipis sebentar, kami menaiki bis dengan tiket seharga 40rb. kalau ima bilang yang 50rb lebih nyaman sih, tapi bagiku yang sudah lama ga naik bis yah bis yah seperti gini ini, aku ga terlalu perduli. dalam perjalanan ima menerima cukup banyak sms dan telpon dari teman2nya, sebagian tahu dari status ym ku. sebagian lagi ada temen gereja, entah bagaimana, bisa tahu dengan cepat, bahkan sampai jakarta juga, yang entah seharusnya tidak kenal sama teman2 ima di surabaya tapi bisa tahu juga. sedangkan ima sendiri, sepanjang perjalanan, masih berharap bahwa semoga papinya itu cuma pingsan, trus maminya ima salah ngasih kabar. dan sepanjang perjalanan ima terus menangis, sampai akhirnya ketiduran.
akhirnya sampai di pati, setelah turun dari bis kami naek becak ke rumah ima yang ada di dalam gang. ima tambah dag dig dug melihat ada terpal di depan rumahnya, dan penuh dengan kursi2 merah (yang biasanya ada di adijasa itu), dan sekumpulan orang2. bahkan bunga ucapan dukacita dari perusahaan tempat kokonya ima bekerja malah sudah sampai lebih dahulu. sambil pasang tampang kasih senyum kecut (karena ga ada yg kenal tapi at least setidaknya harus berbasa basi) kami masuk ke ruang tamu.
di situ ada maminya ima duduk di depan peti mati yang terbuka, yang berisi papinya ima yang sudah terbujur kaku (benar-benar kaku), dengan ditemani beberapa orang nangis sesengukan dengan wajah yang ga karuan dan rambut yang terlihat acak-acakan. melihat kami dateng nangisnya jadi tambah keras. mamanya ima ngomel2 sama papanya ima, mau mati koq ga ngasih pertanda dulu, kok mati secepat itu. memang sih mamanya ima pernah minta sama Tuhan kalo ntar biar papinya ima yang meninggal dulu, soalnya kasian kalo maminya meninggal dulu ntar ga ada yg ngurus papinya yg udah ga seberapa bisa melihat dan lebih sakit-sakitan daripada maminya. setelah nangisnya agak reda, barulah mamanya ima mulai bercerita tentang kejadiannya.
Flashback: Before the Death, Ima's Mother Versionhari jumat papinya ima bilang ke maminya ima, "Lis, habis gini tiap hari aku tolong bacakan alkitab tiap jam 6 sore ya. bacakan yang keras biar aku bisa mendengarkan". ini katanya merupakan suatu pertanda, tetapi waktu itu maminya ima belum sadar.
hari minggu. papinya ima biasanya bawa radio kalau tidur, lalu nyetel siaran rohani sambil tidur. sedangkan maminya ima ga bisa tidur kalau ada radio, sehingga mereka selalu tidur di ruangan yang berbeda. tetapi waktu mau tidur malam itu, ia tidak mau membawa radio. katanya mau berdoa. selain itu, biasanya papinya ima kalau malam kadang2 juga terbangun buat pipis. tapi malam itu ia bilang mau pipis dan buang air besar, biar tidurnya lancar. bila sebelumnya papanya ima masih ada sakit kecil-kecil, hari itu ia sedang dalam keadaan sehat-sehatnya.
senin, jam 6 pagi, mamanya ima bermaksud membangunkan papinya ima. dikirain masih tertidur pulas. posisi tidurnya bagus, berbaring lurus dengan tangan dalam sikap berdoa diatas perut. tubuhnya masih hangat. tapi mamanya ima mulai curiga setelah agak lama. mamanya ima mengecek apakah papanya ima masih bernafas dengan menaruh jari di hidung papanya ima, ternyata sudah tidak bernafas. mamanya ima langsung kalut.
mamanya ima menggoyang2 tubuh papanya ima sambil menjerit-jerit memanggil namanya dengan harapan supaya bangun. dengan air mata mulai mengalir deras, akhirnya ia mencoba untuk menelpon orang lain. biasanya yang hafal nomor orang lain adalah papanya ima, papanya ima sekali dikasih tau nomor orang bisa langsung ingat terus, sehingga mamanya ima kalau butuh apa2 biasanya tanya ke papanya ima. tetapi kali ini ga bisa tanya papanya ima. akhirnya setelah mencari-cari di buku telpon, ketemu nomor-nomor keluarga dan temen komsel (persekutuan doa) nya, dan akhirnya semua bisa dikontak.
belakangan baru diketahui, bahwa kematian papanya ima itu dalam kondisi amat bagus. karena selain ia tidak mati karena sakit, juga karena biasanya kalo orang meninggal itu carian di tubuhnya akan keluar, yaitu kotoran tubuhnya, sehingga mayat tersebut menjadi bau. tetapi karena hari sebelumnya papinya ima sudah buang air, maka ketika orang yang mendandani mayat dengan pakaian formal sebelum dimasukkan peti mati sudah tidak perlu membersihkan mayat tersebut. sehingga menjadi tidak repot.
Monday, July 17 2006: di Patikembali ke scene di ruang tamu. suasana heboh sudah mulai mereda. aku mulai dikenal2kan ke saudara-saudara keluarga ima dan tamu-tamu yang hadir pada waktu itu. kokonya ima sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga, dia yang mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan pemakaman, karena ia sekarang menjadi lelaki tertua di keluarga.
ada beberapa orang yang memegang peranan penting. diantaranya adalah pasangan suami istri pak hadi dan bu yuli, kemudian pasangan suami istri pak ketut dan bu ketut (semuanya ini merupakan teman komsel ortunya ima). kemudian ada pula pasangan pak matias dan bu matias yang merupakan teman gereja. ada beberapa orang lagi yang kalau menurutku memiliki peranan cukup penting tetapi sebenarnya mereka punya karakter yang kurang baik di proses penguburan ini, tetapi lebih baik tidak aku sebutkan.
pak hadi orangnya tinggi besar, chinese tetapi rada coklat, tipe plegmatis, pandai menilai orang dan menganala dengan baik. ia tak banyak bicara, kata2nya kalem tapi punya kekuatan, dan kalau ada yang dinilai kurang ia langsung bertindak untuk membantu. bu yuli orangnya lebih sanguin dan bertampang concern. mereka punya toko dan usaha sarang burung, kedua anaknya ada di amerika, dan hidup tenang di pati dan cukup aktif mengikuti kegiatan gereja. mereka termasuk yang paling banyak membantu selama proses penguburan, termasuk menyumbang lebih dari 200 roti dengan kualitas yang cukup bagus untuk para tamu. mereka jugalah yang banyak membantu waktu orang tua ima terkena banjir lumpur dulu.
pak ketut adalah ketua komsel dari komsel yang diikuti oleh ortunya ima. pak ketut adalah seorang polisi, dari caranya ngomong masih ada logat bali-balinya. dan bu ketut adalah seorang guru. pak ketut orangnya jujur dan juga suka membantu sesama dengan sebisanya. meskipun secara materiil mungkin aku rasa ia masih kalah dengan pak hadi, tetapi ia tidak kalah berjasa dibandingkan dengan pak hadi. pak ketut sampai cuti 3 hari demi membantu penguburan ini. ialah juga yang membantu mendapatkan peti mati dan tanah makam yang seharusnya bisa bernilai sekian juta menjadi tinggal setengahnya. ia pula yang dulu membantu keluarga ima waktu banjir lumpur, mendatangkan truk tangki air untuk menyirami lumpur dengan biaya yang sangat murah, mungkin bisa 10 kali lebih murah. pak ketut punya banyak kenalan, dan ia baik dan jujur.
sementara diriku berkenalan dengan para tamu, mamanya ima sudah dipapah ke ruang dalam, dan ima yang cuek dengan keadaan sekitar, menatap wajah papanya di peti mati dengan pandangan penuh kasih sayang. ima mulai menangis, diantara sedih dan terharu meskipun di dalam hatinya ia merasa damai. ima seharusnya mau pulang pati bulan agustus. ima belum sempat cerita tentang hal-hal yang bisa membuat papanya tertawa terkekeh-kekeh. ima belum sempat membelikan papanya beberapa kebutuhan papanya, yang seharusnya ia bisa berikan lebih awal. banyak penyesalan karena papanya ima pergi begitu cepat. kalau aku lihat mungkin ima yang paling dekat sama papanya, karena ia anak yg paling kecil. dulu ima jugalah yg mengenalkan papanya ke kristen sehingga papanya bisa berubah menjadi orang yang sama sekali baru.
peti matinya ditutup 1 selambu (lapisan kain tipis transparan). dan wajah papanya juga ditutup 1 selambu kecil. warna kulit dari papanya waktu itu masih kuning (pada waktu malamnya sudah mulai berubah menjadi keungu-unguan). ima membuka selambu-selambu itu, kemudian mengelus-elus dan menjiwiti (mencubit) pipi papanya dengan pelan. sewaktu masih hidup ima biasa menggodai papanya dengan menjiwiti dengan gemas badannya. sekarang aku lihat ima berlinang air mata menjiwiti papanya lembut dengan penuh kasih sayang seakan-akan mengenang masa lalu dan berharap kalau papanya masih hidup. aku yang ga tahan melihat pemandangan itu juga ikut menitikkan air mata.
hal yang agak menyeramkan, aku seakan-akan sungguh pernah ingat mengalami ini sebelumnya di mimpi, mungkin waktu aku masih seumur SMA, jauh sebelum kejadian ini. settingnya sama, dalam ruangan seperti ruang tamunya ima, model jendelanya juga sama, dan posisi peti mati dan warnanya juga sama, orang-orang juga berdiri mengelilingi peti mati itu, juga dalam suasana duka. cuma di mimpiku aku ga melihat ima (atau mungkin melihat tapi waktu itu belum kenal kalau itu ima ya) uh, seram.
sore hari sekitar jam 6 sore barulah cecenya ima yang dari jakarta sampai di pati, bersama dengan suami dan anaknya. setelah itu malamnya baru petinya ditutup. sebelum peti ditutup, sepatu dari ayah ima yang terbuat dari kulit sempat ditukar dengan sepatu kets, karena katanya sepatu bisa kulit lebih cepat busuk. aku juga melihat bahwa pada malam harinya kulit dari papi ima menjadi agak lebih keungu-unguan.
Tuesday, July 18 2006: Tutup Petihari ini masih ada tamu-tamu seperti hari sebelumnya, namun acaranya sudah lebih terstruktur karena orang-orang sudah lebih tenang. aku juga sempat ngatur kursi-kursi dan bantu orang-orang yang lainnya. mulai pagi ini di ruang tamu disetel lagu-lagu rohani dari Jeffry S Tjandra. lagu kesukaan ayah ima adalah "Kumau Cinta Yesus" (benar-benar favorit sampai bila beliau kalau di komsel ditanya mau nyanyi lagu apa jawabannya selalu sama)
malam harinya jam 7 sore ada acara kebaktian penghiburan. selama ini kalau di gereja aku kadang bisa merasa seperti ada jamahan Tuhan secara lembut, berupa denyutan-denyutan lembut di sisi samping kepalaku, dan kepalaku menjadi agak terasa berat/kaku (agak susah mendeskripsikannya), denyutan ini begitu lembutnya sampai aku ga yakin apa ini sungguhan atau hanya perasaanku saja. malam itu aku merasakan hal yang sama, dan aku tetap ga berani bilang hal itu benar-benar ada, atau hanya sugesti perasaanku saja. tetapi berikutnya setelah kembali ke surabaya, aku baru tahu dari ima bahwa pada hari selasa malam ini, kokonya ima juga merasakan hal yang sama (dia orangnya memang cenderung lebih peka, karena waktu kecil sebelum ia bertobat ia pernah mengikuti semacam ilmu kebatinan)
ketika malam sudah agak larut aku baru diberitahu bahwa pada waktu sebelum ayah ima meninggal, pak matias dan bu matias mendapat penglihatan.
Flashback: The Visionpada hari rabu pagi, bu matias yang beda komsel dengan papinya ima, dia dapat penglihatan bahwa papinya ima melambai-lambaikan tangan ke dia seperti mau pergi. lalu bu matias berdoa. pak matias dan bu matias merasa bahwa mereka disuruh Tuhan untuk mendoakan papinya ima. tetapi karena waktu rabu malam mereka berdua ada komsel (dan komselnya berbeda dengan komsel ortu ima), maka mereka baru bisa datang ke rumah ortu ima hari kamis. mereka bersepakat untuk tidak memberitahukan penglihatan ini ke orang tua ima, karena takutnya bila ternyata salah menafsirkan, orang tua ima malah jadi takut. pak dan bu matias hanya memberitahukan hal ini pada pak ketut dan bu ketut (karena pak ketut merupakan ketua komsel orang tua ima)
pada hari kamis malam itu, pak dan bu matias, pak dan bu ketut, bu prapto datang ke rumah orang tua ima, untuk mendoakan. mama ima sebenarnya sudah curiga, koq tumben pak dan bu matias datang, karena mereka beda sel. setelah itu mereka mulai berdoa, lalu memberi pengarahan pada papi ima. kemudian pak matias mengajar orang tua ima tentang sorga, lalu mereka kembali mendoakan kembali. di dalam doa waktu itu, bu ketut melihat malaikat-malaikat turun dari sorga membentuk lingkaran membentengi mereka yang sedang berdoa membentuk lingkaran.
sedangkan bu matias melihat penglihatan ada rumah besar bertingkat (mansion) memiliki 3 pilar besar berwarna kuning keemasan. bu matias melihat papinya ima mau masuk ke dalam rumah itu, tetapi tidak bisa. di halaman rumah itu terlihat ada bunga-bunga berwarna merah, dan ada kesan bahwa bunga itu seperti geram atau mengandung kemarahan.
bu prapto dapat penglihatan bahwa papinya ima duduk di pelaminan (seperti waktu orang mau married) dengan baju berjas lengkap, tiba-tiba dari dada papinya ima keluar burung hitam (mungkin gagak) berwarna hitam. penglihatan-penglihatan ini tidak berlangsung secara serentak, namun berseling-seling diantara sesi pengajaran dan doa.
setelah itu mereka berdoa lagi, dan (kalau bukan pak matias ya bu matias, entah siapa) mendapat penglihatan yang terakhir. terlihat papinya ima memasuki rumah, dan bunga-bunga di taman yang sebelumnya berwarna merah, berubah menjadi berwarna ungu dan putih (ungu artinya mulia), kemudian mereka menundukkan diri ke arah papinya ima seakan-akan memberi hormat.
semua penglihatan tersebut tidak diceritakan kepada orang tua ima, tapi mereka yang datang merasa sudah waktunya Tuhan bahwa papinya ima untuk dipanggil oleh Bapa di sorga, karena mereka melihat papinya ima sudah masuk ke rumah besar dan indah yang sudah disediakan Tuhan untuk papinya ima. sejak malam itu papinya ima merasa hatinya lebih pasrah kepada Tuhan (sebelumnya sudah berserah namun ini menjadi lebih berserah.
semua hal tentang penglihatan ini baru diceritakan ke ima waktu hari selasa malam itu, dan kemudian ima menceritakannya kepadaku. ima merasa damai dan sukacita, meskipun ada kesedihan karena masih akan lama untuk bertemu papinya kembali. ima juga terharu karena Tuhan begitu buaekkkk, ima bilang kepadaku "kematian orang yang percaya itu indah karena itu bukanlah akhir tetapi awal hidup bersama Bapa"
Flashback: Short Biographyima belajar satu hal dari papinya ima, bahwa sejak papinya ima menerima Yesus, hatinya berubah 180 derajat, benar-benar dipenuhi kasih -- karena dulu ia sering menyakiti dan disakiti orang tetapi sekarang ia menjadi pemaaf dan tidak menyimpan kesalahan orang lain -- dan meskipun kaki papinya ima masih lemah karena sisa stroke, dan ga bisa pelayanan, tetapi ima belajar bahwa yang dilihat Tuhan adalah hati. hati yang polos, hati yang tulus, hati yang seperti anak kecil. karena itu jagalah hatimu dengan penuh kewaspadaan, karena di situlah terpancar kehidupan.
papinya ima dalam waktu 3 tahun sejak ia bertobat sampai ia meninggal merupakan orang yang benar-benar bisa menjadi teladan (aku bisa jadi 25%nya saja sudah bersyukur sekali). ia berdoa sebelum makan, sesudah makan, sebelum mandi, sesudah mandi, selalu mengucap syukur, walaupun doanya sebentar. tetapi aku berpikir dengan gaya hidup papinya (yang aku percaya hatinya juga murni), di akhir hidupnya masih bisa keluar burung hitam (yang melambangkan dicabutnya akar-akar si jahat atau ikatan-ikatan yang lain). seperti ada hal-hal dimana kita merasa kita baik-baik saja, tetapi Tuhan melihatnya itu masih belum berkenan, karena Tuhan melihat lebih dalam lagi, ada sesuatu yang perlu dibereskan. karena itu di hidup kita adalah sangat penting untuk membiarkan Tuhan mengkoreksi hidup kita setiap hari dan meresponinya dengan taat.
ima berkata Tuhan itu begitu baik karena papinya meninggal setelah 3 tahun sejak pertobatan papinya itu, karena 3 tahun itu menghapus semua kenangan buruk tentang papinya yang dahulu hidupnya masih kurang benar. coba kalau meninggalnya sebelum papinya ima bertobat, kan pasti ingetnya yang buruk-buruk. Tuhan juga memberikan masa 3 tahun untuk masa pemulihan keluarga.
(bagian ini sebagian dari wawancara ke ima, karena aku ga mungkin bisa nulis kata-kata yang bagus gitu :p)
Wednesday, July 19 2006: Penguburanhari ini aku bangun jam 630 dengan setengah ngelilir (tersadar), karena acara penguburan dimulai jam 10. jam 9 sudah harus siap karena ada kebaktian singkat di ruang tamu. aku ke lokasi penguburan dengan naik mobil mayat, persis di sebelah peti matinya. di pemakaman ada kotbah sebentar, lalu peti diturunkan ke dalam tanah, lalu ada acara foto-foto berdasarkan kelompok. setelah itu acara tabur bunga ke atas peti yang sudah masuk di dalam lubang tanah, maminya ima sempat menangis sejenak dan ia tidak kuat untuk melakukan tabur bunga karena emosional melihat proses tersebut.
setelah proses penguburan selesai, kami kembali pulang ke rumah. maminya ima sudah menjadi lebih tenang, bahkan ceria karena kembali bersama keluarga ditambah dengan cucu tercinta. aku juga jadi lebih sempat bersantai setelah 2 hari yang melelahkan, kalau ga salah banyak tidurnya, dan omong-omong dengan anggota keluarga yang lain.
aku lihat di rumahnya ima banyak terdapat gambar-gambar (lukisan?) kristen, dan adanya salib dipajang di dinding di setiap ruangan. sedangkan di rumahku mungkin cuma di kamar adikku yang seperti itu. aku merasa mungkin ada bagusnya bila kelak aku tinggal sendiri melakukan hal yang sama, karena adanya benda-benda semacam itu mau tidak mau akan mengingatkan kita untuk berpikir dari sudut rohani bila sedang menghadapi masalah.
Thursday, July 20 2006: Relaxing n Pulanghari ini juga lebih relaks. aku pulang naik travel sendiri jam 11 malam, sementara ima baru kembali ke surabaya hari senin karena ia mau menemani mamanya supaya ga terlalu shock karena tiba-tiba sendirian di rumah dan tidak ada yang diajak bicara -- setelah sebelumnya puluhan tahun bersama dengan suaminya.
maminya ima saat ini berumur 61 tahun, dan papinya waktu meninggal berumur 65 tahun. maminya ima lebih memilih untuk tinggal di pati dan tidak mau dibawa ke surabaya karena di pati terdapat banyak teman-teman gerejanya, dan tetangga-tetangga juga sudah kenal. kalau keluar rumah pasti udah saling sapa-menyapa dengan tetangga, sedangkan di surabaya kehidupan begitu individualis, keluar rumah ya kosong, sehingga bisa-bisa tambah kesepian. saat ini seorang pelayan gereja full timer beserta istri dan anaknya juga tinggal di rumah maminya ima, untuk menemani dan membantu berjaga-jaga kalau terjadi apa-apa.
- the end -apa yang kucari, tidak kudapatkan
apa yang kukumpulkan, tidak dapat kupakai
apa yang kupersembahkan, itulah yang aku bawa pulang